ANGKA TERLARANG: MENGAPA "NOL" PERNAH DIANGGAP SESAT OLEH EROPA?
Menelusuri sejarah kelam angka 0, dari penemuannya di India hingga pelarangannya di Florence tahun 1299.
Bayangkan hidup tanpa angka nol. Bagaimana Anda menuliskan perbedaan nilai antara 10, 100, dan 1000? Bagi kita di era digital, nol adalah pondasi teknologi. Kode biner $0$ dan $1$ menjalankan komputer, gawai, hingga internet yang sedang Anda gunakan saat ini.
Namun, tahukah Anda bahwa simbol berbentuk oval ini pernah ditolak mentah-mentah oleh peradaban Eropa? Selama berabad-abad, nol dianggap sebagai konsep berbahaya, sarana penipuan, bahkan diasosiasikan dengan kesesatan teologis.
Eropa dan Ketakutan akan "Kekosongan"
Sebelum sistem bilangan Hindu-Arab dikenal, Eropa menggunakan Sistem Bilangan Romawi (simbol I, V, X, L, C, D, M). Sistem ini tidak memiliki lambang (angka) untuk merepresentasikan "ketiadaan". Jika seseorang memiliki dua koin lalu diambil dua koin, orang Romawi tidak menulis "0", melainkan menggunakan kata bahasa Latin nulla (tidak ada).
Penolakan terhadap konsep bilangan nol juga berakar pada filosofi Yunani Kuno dan doktrin gereja abad pertengahan. Aristoteles pernah menyatakan prinsip yang sangat berpengaruh:
(Alam semesta membenci kekosongan)
Bagi pemikir masa itu, keberadaan "nol" atau "ruang hampa" dianggap mustahil secara logika. Menerima konsep nol sama saja dengan menerima konsep "ketiadaan", yang pada masa itu dianggap bertentangan dengan keyakinan bahwa Tuhan hadir di segala ruang dan waktu.
Kelahiran Sang Pahlawan: Sifr
Sementara Eropa berkutat dengan keterbatasan angka Romawi, matematikawan India, Brahmagupta (598–668 M), telah merumuskan aturan operasi hitung untuk bilangan nol dalam bukunya Brahmasphutasiddhanta. Ia mendefinisikan nol bukan sekadar tempat kosong (placeholder), melainkan sebuah bilangan yang memiliki nilai dan dapat dioperasikan:
$$ 1 - 1 = 0 $$
Konsep cemerlang ini kemudian diserap dan dikembangkan oleh ilmuwan Muslim di Baghdad, terutama oleh Al-Khwarizmi. Dalam bahasa Arab, nol disebut sifr (kosong). Dari transliterasi kata sifr inilah lahir kata cipher (sandi) dan zero.
Sistem bilangan Arab menggunakan konsep "Nilai Tempat" (Place Value) yang dimungkinkan oleh angka 0. Lihat betapa rumitnya jika kita menulis bilangan besar menggunakan angka Romawi.
Konflik Para Bankir dan Kemenangan Fibonacci
Angka nol mulai masuk ke gerbang Eropa melalui Leonardo dari Pisa, atau yang lebih dikenal sebagai Fibonacci. Dalam mahakaryanya Liber Abaci (1202), ia mempromosikan "Modus Indorum" (Metode India) untuk menggantikan sempoa.
Namun, para bankir Italia menolak keras. Alasannya sangat pragmatis dan terkait keamanan finansial: Angka nol ($0$) sangat mudah diubah menjadi angka enam ($6$) atau sembilan ($9$) hanya dengan satu goresan tinta tambahan. Hal ini memicu ketakutan akan penipuan dalam catatan utang piutang. Sebaliknya, angka Romawi (contoh: VI, VIII) dianggap lebih sulit dipalsukan.
Meski ditentang dan dilarang, efisiensi matematika Arab tidak bisa dibendung. Perdagangan global yang semakin kompleks membutuhkan perhitungan cepat (algoritma) yang tidak bisa dilayani oleh sistem Romawi. Akhirnya, seiring berjalannya waktu, angka nol diterima sepenuhnya dan menjadi kunci terjadinya Revolusi Ilmiah di Eropa.
Kuis Sejarah Matematika
Mari uji wawasan Anda tentang sejarah bilangan nol!
Glosarium
- Horror Vacui
- Ketakutan akan kekosongan; sebuah prinsip fisika Aristoteles yang menyatakan bahwa alam membenci ruang hampa.
- Sifr
- Kata dalam bahasa Arab yang berarti "kosong". Merupakan asal kata dari "zero" (Inggris) dan "cipher" (sandi).
- Liber Abaci
- Buku karya Fibonacci (1202) yang berarti "Buku Perhitungan". Buku ini berjasa memperkenalkan sistem bilangan Hindu-Arab ke dunia Barat.
- Nilai Tempat (Place Value)
- Sistem di mana nilai sebuah angka (digit) ditentukan oleh posisinya. Contoh: angka 1 pada 10 bernilai sepuluh, pada 100 bernilai seratus. Sistem ini membutuhkan nol.
- Seife, C. (2000). Zero: The Biography of a Dangerous Idea. Viking Penguin.
- Kaplan, R. (1999). The Nothing That Is: A Natural History of Zero. Oxford University Press.
- O'Connor, J. J., & Robertson, E. F. (2000). A History of Zero. MacTutor History of Mathematics archive.
Keywords: sejarah angka nol, mengapa angka nol dilarang, penemu angka nol, fibonacci liber abaci, sistem bilangan romawi, matematika islam, al-khwarizmi.

