Bali, pulau yang dikenal dengan keindahan alam dan budayanya, secara rutin menghadapi tantangan serius: bencana banjir. Peristiwa banjir, terutama yang melanda wilayah seperti Kabupaten Jembrana dan Gianyar, tidak hanya menyebabkan kerugian material tetapi juga menguji ketangguhan masyarakat. Di balik berita dan upaya penanggulangan, ada peran penting dari sebuah disiplin ilmu yang sering dianggap abstrak: Matematika.
Memahami Skala Bencana dengan Angka
Langkah pertama dalam menanggulangi bencana adalah memahaminya, dan cara terbaik untuk itu adalah melalui data kuantitatif. Di sinilah peran dasar matematika sangat vital. Para ahli mengukur berbagai variabel untuk memetakan skala banjir:
- Intensitas Hujan: Diukur dalam milimeter (mm), data ini menunjukkan seberapa besar volume air hujan yang turun dalam periode waktu tertentu.
- Ketinggian Muka Air: Diukur dalam sentimeter (cm) atau meter (m), digunakan untuk menentukan status sungai (Siaga, Waspada, Awas).
- Luas Genangan: Dihitung dalam hektare (ha) atau kilometer persegi (km²), untuk mengetahui seberapa luas wilayah yang terdampak.
Data-data ini bukan sekadar angka, melainkan fondasi untuk pengambilan keputusan yang strategis dan terukur.
Matematika sebagai Alat Prediksi dan Mitigasi
Lebih dari sekadar mengukur, matematika menyediakan alat yang canggih untuk memprediksi dan merancang solusi pencegahan (mitigasi) banjir.
- Pemodelan Hidrologi dan Debit Air: Ahli hidrologi menggunakan rumus matematis untuk menghitung debit air (Q), yaitu volume air yang melewati suatu penampang sungai per satuan waktu. Rumus dasarnya adalah Q = A × v (Luas Penampang × Kecepatan Aliran). Dengan model ini, mereka dapat memprediksi apakah kapasitas sungai akan terlampaui saat hujan deras, yang menjadi dasar sistem peringatan dini.
- Statistika dan Periode Ulang Banjir: Anda mungkin pernah mendengar istilah "banjir 100 tahunan". Ini bukan berarti banjir terjadi setiap 100 tahun sekali. Ini adalah konsep statistika yang disebut periode ulang (return period). Banjir 100 tahunan berarti sebuah banjir dengan skala tertentu memiliki probabilitas kejadian 1% (1/100) di setiap tahunnya. Perhitungan ini sangat penting bagi insinyur sipil untuk merancang infrastruktur seperti jembatan dan bendungan agar tahan terhadap potensi banjir ekstrem.
- Pemodelan Spasial (GIS): Dengan menggabungkan data topografi (ketinggian daratan) dan model aliran air yang berbasis persamaan diferensial, para ahli dapat membuat peta risiko banjir. Peta ini secara matematis menunjukkan area mana saja yang paling rentan tergenang, kedalaman genangan, dan jalur evakuasi yang paling aman.
Dari Teori ke Aksi Nyata
Model matematika ini bukanlah sekadar teori di atas kertas. Hasil perhitungannya menjadi dasar bagi aksi nyata di lapangan:
- Perhitungan debit air menentukan desain normalisasi sungai dan pembangunan tanggul.
- Analisis periode ulang menjadi standar dalam membangun infrastruktur vital.
- Peta risiko banjir digunakan oleh pemerintah daerah untuk perencanaan tata ruang dan jalur evakuasi.
Pada akhirnya, di balik setiap upaya mitigasi bencana banjir yang efektif, ada perhitungan matematis yang cermat. Ini menunjukkan bahwa matematika adalah bahasa universal yang tidak hanya menjelaskan alam, tetapi juga membantu kita hidup lebih harmonis dan aman di dalamnya.
Keywords: banjir Bali, mitigasi banjir, matematika, pemodelan matematika, hidrologi, debit air, statistika, manajemen bencana, Jembrana, literasi numerasi.

