Sejarah Pendidikan STEM: Evolusi Lengkap dari Era Industri Hingga Revolusi Digital
Sebuah tinjauan mendalam mengenai transformasi paradigma pendidikan Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika di kancah global dan Indonesia.
Pendidikan STEM—sebuah akronim yang kini mendominasi diskusi kebijakan pendidikan global—bukanlah sekadar tren sesaat. Lebih dari sekadar gabungan empat mata pelajaran (Science, Technology, Engineering, Mathematics), STEM merepresentasikan respons strategis peradaban manusia terhadap tantangan zaman. Dari mesin uap hingga kecerdasan buatan, sejarah STEM adalah cermin dari evolusi kebutuhan tenaga kerja dan keamanan nasional kita.
Dalam perkembangannya, STEM telah bermetamorfosis dari kumpulan disiplin ilmu yang terpisah (silo) menjadi pendekatan interdisipliner yang kohesif. Seperti yang didefinisikan oleh Judith Ramaley dari National Science Foundation (NSF), STEM adalah "inquiry pendidikan di mana pembelajaran ditempatkan dalam konteks," yang memungkinkan siswa memecahkan masalah dunia nyata.
Jelajah Waktu: Tonggak Sejarah STEM
Klik pada era di bawah ini untuk melihat peristiwa kunci yang membentuk pendidikan STEM.
Pilih era untuk melihat detail sejarah.
1. Akar Historis: Dari Revolusi Industri hingga Perang Dingin
Era Agraris ke Industri (Abad ke-19)
Sebelum abad ke-20, pendidikan tinggi didominasi oleh seni liberal dan teologi. Sains dan teknik dianggap keterampilan vokasi kasar. Namun, Revolusi Industri mengubah segalanya. Kebutuhan akan tenaga kerja teknis mendesak pengesahan Morrill Act (1862) di Amerika Serikat, yang mendirikan universitas land-grant. Ini adalah benih awal komponen "E" (Engineering) dan "T" (Technology) dalam ekosistem STEM, mendemokratisasi akses pendidikan sains yang sebelumnya elitis.
John Dewey dan Pendidikan Progresif
Pada awal abad ke-20, filsuf John Dewey memperkenalkan konsep learning by doing. Meskipun belum menggunakan istilah STEM, kritik Dewey terhadap pemisahan sekolah dari kehidupan nyata menjadi prekursor langsung bagi Project-Based Learning (PjBL) yang menjadi jantung pedagogi STEM modern.
Kejutan Sputnik (1957)
Titik Balik: Pada 4 Oktober 1957, Uni Soviet meluncurkan Sputnik 1. Peristiwa ini memicu "Sputnik Shock" di AS, mengubah pendidikan sains dari isu pedagogis menjadi isu Keamanan Nasional.
Merespons hal ini, AS mengesahkan National Defense Education Act (1958), menggelontorkan dana masif untuk kurikulum sains baru yang meninggalkan hafalan demi pemahaman konseptual. Generasi inilah yang kemudian berhasil mendaratkan manusia di bulan pada tahun 1969.
2. Kelahiran Akronim STEM (1990-2000an)
Tahukah Anda bahwa sebelum menjadi "STEM", akronim yang digunakan adalah SMET? Sepanjang tahun 1990-an, NSF menggunakan urutan Science, Mathematics, Engineering, and Technology.
Perubahan terjadi pada tahun 2001. Dr. Judith A. Ramaley dan tim di NSF menata ulang huruf-huruf tersebut menjadi STEM. Pilihan ini dianggap jenius secara linguistik karena "stem" (batang) berkonotasi organik, pertumbuhan, dan fondasi yang kuat, berbeda dengan SMET yang terdengar mirip dengan "smut" (kotoran).
"STEM bukan kurikulum statis, melainkan peluang inovasi." — Judith Ramaley
3. Evolusi Pedagogis: Konstruktivisme dan Siklus 5E
Pendidikan STEM modern menolak behaviorisme (hafalan dan latihan berulang) dan memeluk konstruktivisme—teori bahwa pengetahuan dibangun aktif oleh siswa. Salah satu model instruksional yang paling populer adalah model 5E:
| Fase 5E | Aktivitas Siswa dalam STEM |
|---|---|
| Engage | Dihadapkan pada fenomena aneh atau tantangan rekayasa. |
| Explore | Memanipulasi alat, mengumpulkan data, mendesain purwarupa (hands-on). |
| Explain | Menghubungkan praktik rekayasa dengan teori sains/matematika formal. |
| Elaborate | Menerapkan solusi teknologi pada konteks dunia nyata baru. |
| Evaluate | Menilai kinerja purwarupa atau akurasi konsep. |
Selain 5E, ciri khas STEM adalah integrasi Engineering Design Process (EDP) yang bersifat siklis:
Proses ini mengajarkan siswa bahwa kegagalan adalah bagian esensial dari inovasi.
4. Data Komparatif Global
Setiap negara mengadaptasi STEM dengan motif berbeda. AS fokus pada inovasi ekonomi, Korea Selatan pada kreativitas (STEAM), dan China pada skala produksi massal tenaga ahli.
Statistik Pendidikan STEM Global
Perbandingan jumlah lulusan STEM tahunan di negara-negara kunci.
5. Trajektori STEM di Indonesia
Di Indonesia, semangat integrasi ilmu sudah dimulai sejak era 1990-an melalui pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat (STM). Namun, istilah STEM baru populer seiring implementasi Kurikulum 2013 dan peran strategis organisasi seperti SEAQIS (SEAMEO Regional Centre for QITEP in Science).
Kurikulum Merdeka: Rumah Alami STEM
Peluncuran Kurikulum Merdeka memberikan ekosistem kondusif bagi STEM melalui:
- Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5): Mengalokasikan 20-30% jam pelajaran untuk proyek lintas disiplin.
- Fleksibilitas: Guru bebas merancang pembelajaran berbasis masalah (PBL) tanpa terkekang sekat mata pelajaran kaku.
Pada Mei 2025, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan Gerakan STEM Indonesia Cerdas 2025–2027, menegaskan posisi STEM sebagai strategi inti menuju Indonesia Emas 2045.
6. Masa Depan: STEAM dan STREAM
Kritik bahwa STEM terlalu teknis melahirkan varian baru:
- STEAM (+Arts): Menambahkan seni dan desain untuk memupuk kreativitas dan empati, seperti yang sukses diterapkan di Korea Selatan.
- STREAM (+Reading/Religion): Menambahkan literasi (kemampuan komunikasi teknis) dan nilai religius/etika (refleksi dampak teknologi bagi kemanusiaan).
Glosarium Istilah
Referensi Terpilih
- Sanders, M. (2009). STEM, STEM Education, STEMmania. The Technology Teacher.
- Bybee, R. W. (2013). The Case for STEM Education: Challenges and Opportunities. NSTA Press.
- Friedman, T. L. (2005). The World is Flat: A Brief History of the Twenty-first Century. Farrar, Straus and Giroux.
- National Commission on Excellence in Education. (1983). A Nation at Risk: The Imperative for Educational Reform.
- Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikbudristek. (2025). Grand Design Gerakan STEM Indonesia Cerdas.
- Sejarah Pendidikan STEM: Dari Awal Hingga Kini (Dokumen Sumber Internal).

