Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026: Laboratorium Langit untuk Pendidikan Berkualitas dan Sains Atmosfer
Mengupas fenomena Blood Moon melalui kacamata Matematika dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Pada tanggal 3 Maret 2026, langit malam Indonesia akan menjadi panggung bagi salah satu fenomena astronomi paling memukau: Gerhana Bulan Total (GBT). Peristiwa ini bukan sekadar atraksi visual, melainkan sebuah manifestasi nyata dari mekanika selestial yang presisi. Bagi komunitas akademik dan masyarakat umum, gerhana ini menawarkan peluang emas untuk mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui literasi sains, serta memahami indikator SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui analisis atmosfer bumi saat gerhana terjadi.
Geometri dan Matematika Gerhana (Saros 131)
Gerhana Bulan Total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus yang sempurna atau syzygy. Namun, tidak setiap bulan purnama menghasilkan gerhana karena orbit Bulan miring sekitar
Dalam tinjauan matematis program studi pendidikan matematika, kita dapat menghitung parameter krusial yang menentukan durasi dan jenis gerhana. Parameter tersebut adalah Gamma (
1. Perhitungan Gamma ( )
Nilai
Tanda negatif menunjukkan bahwa Bulan melintas di sebelah selatan sumbu bayangan umbra Bumi. Karena
2. Magnitudo Umbra ( )
Magnitudo umbra menghitung seberapa dalam Bulan tenggelam ke dalam bayangan inti. Dengan radius penumbra
Berdasarkan efemeris NASA, magnitudo gerhana ini mencapai:
Artinya, diameter Bulan tertutup sepenuhnya oleh umbra, bahkan masuk cukup dalam hingga 115,3% dari diameternya, menghasilkan durasi totalitas yang cukup panjang, yakni sekitar 58 menit.
Koneksi SDGs: Atmosfer dan Perubahan Iklim
Mengapa Gerhana Bulan relevan dengan SDG 13 (Climate Action)? Jawabannya terletak pada warna Bulan saat puncak gerhana. Warna merah darah atau Blood Moon disebabkan oleh pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi (Hamburan Rayleigh).
Intensitas warna dan kecerahan Bulan saat totalitas diukur menggunakan Skala Danjon (
"Gerhana Bulan adalah pemeriksaan kesehatan (medical check-up) global terhadap atmosfer Bumi kita. Kekeruhan atmosfer akibat emisi karbon dan aerosol dapat dideteksi dari seberapa gelap bayangan Bumi yang jatuh di wajah Bulan."
Simulasi Interaktif Fase Gerhana
Gunakan kontrol di bawah ini untuk mensimulasikan pergerakan Bulan melintasi bayangan Bumi. Perhatikan bagaimana Bulan memasuki bayangan Penumbra (samar), kemudian Umbra (gelap sebagian), dan akhirnya menjadi Merah saat Totalitas.
Jadwal Observasi di Indonesia
Gerhana ini memiliki karakteristik unik bagi pengamat di Indonesia, yaitu Moonrise Eclipse. Bulan akan terbit dalam kondisi sudah mengalami gerhana (baik penumbra atau parsial) tergantung lokasi pengamat.
| Fase Gerhana | WIB (UTC+7) | WITA (UTC+8) | WIT (UTC+9) |
|---|---|---|---|
| Awal Parsial (U1) | 16:50 | 17:50 | 18:50 |
| Awal Totalitas (U2) | 18:04 | 19:04 | 20:04 |
| Puncak Gerhana | 18:34 | 19:34 | 20:34 |
| Akhir Totalitas (U3) | 19:02 | 20:02 | 21:02 |
| Akhir Parsial (U4) | 20:17 | 21:17 | 22:17 |
Glosarium
- Syzygy: Konfigurasi garis lurus antara tiga benda langit (Matahari-Bumi-Bulan).
- Hamburan Rayleigh: Fenomena fisika di mana partikel di atmosfer menghamburkan cahaya gelombang pendek (biru) dan meneruskan gelombang panjang (merah), menyebabkan Bulan tampak merah saat gerhana total.
- Umbra: Bayangan inti Bumi yang sangat gelap. Jika Bulan masuk ke area ini, terjadi gerhana total atau parsial.
Referensi
- NASA Eclipse Web Site. (n.d.). Lunar Eclipses: 2021-2030. Goddard Space Flight Center.
- Espenak, F. (2014). Thousand Year Canon of Lunar Eclipses 1501 to 2500. Astropixels.
- United Nations. (2015). The 17 Goals | Sustainable Development. SDG 4 & SDG 13.

