KULIAH BERSAMA: MATHEMATICS AS A HUMAN ACTIVITY
Narasumber: Shofan Fiangga, M.Sc. (PhD Student Utrecht University, Netherlands)
Surabaya – Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sukses menyelenggarakan Kuliah Bersama pada Jumat, 6 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa dan pendidik untuk mendalami kembali esensi matematika melalui tema besar "Mathematics as a Human Activity".
Kuliah ini menghadirkan wawasan langsung dari pusat kelahiran inovasi tersebut, yakni Utrecht University, Belanda. Fokus utama diskusi adalah membedah pendekatan Pendidikan Matematika Realistik (PMR) atau Realistic Mathematics Education (RME) sebagai antitesis dari metode pembelajaran mekanistik yang selama ini mendominasi ruang kelas.
Menggeser Paradigma: Dari Mekanistik ke Humanistik
Dalam sesi pembuka, ditekankan bahwa matematika sering kali diajarkan sebagai produk jadi (ready-made mathematics). Siswa diperlakukan seperti mesin: diberi data (soal), memproses dengan algoritma (rumus), dan mengeluarkan hasil (jawaban).
PMR menawarkan pendekatan berbeda. Matematika dipandang sebagai aktivitas. Tugas pendidik bukan mentransfer pengetahuan, melainkan memfasilitasi siswa untuk menemukan kembali (reinvent) konsep matematika melalui masalah yang realistik atau dapat dibayangkan (imaginable) oleh siswa.
Visualisasi Interaktif: Model Gunung Es (The Iceberg)
Salah satu materi kunci yang dibahas adalah Model Gunung Es. Model ini menggambarkan bahwa kemampuan matematika formal hanyalah "puncak" yang terlihat, yang harus ditopang oleh pemahaman mendalam di bawah permukaan.
Klik pada setiap lapisan di bawah ini untuk memahami alur berpikir siswa dalam PMR:
Proses Matematisasi: Contoh Kasus Linier
Bagaimana PMR diterapkan dalam materi Aljabar? Mari kita ambil contoh fenomena nyata: Tarif Layanan Pesan Antar.
Misalkan sebuah aplikasi menetapkan biaya jasa awal Rp 5.000,00 dan biaya per kilometer perjalanan adalah Rp 2.000,00.
- Eksplorasi Situasional: Siswa tidak langsung diberi rumus. Mereka mungkin menghitung manual: "Kalau 1 km berarti 5 ribu tambah 2 ribu. Kalau 2 km tambah 2 ribu lagi."
- Pembentukan Model: Siswa mulai menyadari pola berulang. Mereka mungkin membuat tabel atau grafik sederhana yang menunjukkan kenaikan konstan.
-
Abstraksi Formal: Dari pola tersebut, siswa dibimbing untuk merumuskan fungsi matematika secara mandiri:
Di mana adalah jarak (km) dan adalah total biaya.
Dengan pendekatan ini, persamaan linier

