Problem Posing Matematika
Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa siswa sering kali mahir menghitung tetapi bingung ketika dihadapkan pada soal cerita yang tidak rutin? Jawabannya mungkin terletak pada kurangnya kesempatan mereka untuk mengonstruksi masalah mereka sendiri. Dalam dunia pendidikan matematika modern, kemampuan menyelesaikan masalah (problem solving) saja tidak cukup. Ada sisi lain mata uang yang sama pentingnya, namun sering terlupakan: Problem Posing.
Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu problem posing, mengapa ini menjadi kunci emas dalam pembelajaran abad 21, dan bagaimana kita bisa menerapkannya. Materi ini disajikan berdasarkan literatur riset terkini untuk mahasiswa pendidikan matematika, guru, dan pemerhati pendidikan.
Apa Itu Problem Posing?
Secara harfiah, problem posing berarti pengajuan masalah atau pembentukan soal. Namun, dalam konteks pendidikan matematika, maknanya jauh lebih dalam. Menurut ahli terkemuka Edward A. Silver (1994), problem posing memiliki dua dimensi utama:
- Generation: Menciptakan masalah baru dari situasi yang diberikan.
- Reformulation: Merumuskan kembali masalah yang sudah ada (problem solving) menjadi masalah baru yang lebih menantang atau berbeda.
Berbeda dengan paradigma tradisional di mana guru adalah satu-satunya sumber soal, pendekatan ini menempatkan siswa sebagai arsitek pengetahuan. Siswa diminta untuk melihat situasi matematika—bisa berupa gambar, grafik, atau pernyataan—dan bertanya: "Apa yang bisa saya tanyakan dari data ini?"
Klasifikasi Problem Posing
Stoyanova dan Ellerton (1996) mengategorikan aktivitas problem posing ke dalam tiga situasi utama, yang memberikan kerangka kerja bagi guru untuk menerapkannya:
1. Free Situation (Situasi Bebas)
Siswa diberikan kesempatan untuk membuat soal tanpa batasan yang ketat. Contoh: "Buatlah soal matematika yang jawabannya adalah 10" atau "Buatlah soal cerita tentang pecahan." Ini melatih kreativitas murni.
2. Semi-structured Situation (Situasi Semi-Terstruktur)
Siswa diberikan situasi terbuka (open-ended situation) berupa gambar, tabel, atau data tidak lengkap, lalu diminta mengeksplorasi. Contoh: Diberikan foto menu restoran, siswa diminta membuat soal tentang total harga dan kembalian.
3. Structured Situation (Situasi Terstruktur)
Siswa diminta menyusun soal baru berdasarkan soal yang sudah diselesaikan sebelumnya. Ini sering disebut strategi "What-If-Not". Contoh: Jika soal asli tentang luas persegi panjang dengan panjang 5 cm, bagaimana jika panjangnya diubah menjadi
Strategi "What-If-Not" Brown & Walter
Salah satu teknik paling valid dan operasional dalam problem posing adalah strategi What-If-Not yang dikembangkan oleh Brown dan Walter. Strategi ini mengajak siswa untuk mendaftar atribut dari sebuah masalah, lalu mengingkarinya (mengubahnya) untuk melihat konsekuensi logisnya.
Simulasi Interaktif: Strategi What-If-Not
Mari kita praktikkan strategi ini pada sebuah situasi geometri sederhana. Klik tombol di bawah untuk mengubah atribut (ingkaran) dan melihat bagaimana masalah baru terbentuk secara otomatis.
*Klik tombol untuk melihat contoh pertanyaan problem posing.
- Level 1 (Mengubah Angka): Ganti 8 cm menjadi 10 cm, atau
cm. - Level 2 (Mengubah Kondisi): Bagaimana jika panjangnya lebih pendek dari lebar?
- Level 3 (Mengubah Konsep): Bagaimana jika konsep luas diganti dengan keliling? Apakah hubungan
dan tetap sama?
Manfaat Problem Posing dalam Pembelajaran
Riset menunjukkan korelasi positif yang kuat antara kemampuan problem posing dan problem solving. Berikut adalah manfaat utamanya:
- Mendeteksi Miskonsepsi: Guru dapat melihat kedalaman pemahaman siswa dari soal yang mereka buat. Siswa yang paham konsep akan membuat soal yang struktural, bukan sekadar prosedural.
- Fleksibilitas Berpikir: Melatih siswa berpikir divergen (menyebar) dan tidak terpaku pada satu solusi tunggal.
- Menurunkan Kecemasan Matematika: Karena siswa memiliki kendali atas soal, matematika menjadi kurang mengintimidasi dan lebih personal.
Indikator Kualitas Problem Posing
Bagaimana kita menilai apakah soal yang diajukan siswa berkualitas? Silver dan Cai (1996) mengusulkan tiga kriteria utama:
- Solvability (Keterpecahan): Apakah soal tersebut dapat diselesaikan secara matematis? Soal yang baik harus logis dan memiliki solusi yang jelas (atau secara eksplisit tidak memiliki solusi karena alasan logis).
- Complexity (Kompleksitas): Apakah soal memerlukan lebih dari satu langkah operasi? Soal yang kompleks menunjukkan pemahaman relasional, bukan sekadar komputasional.
- Novelty (Kebaruan): Seberapa unik soal tersebut? Apakah hanya mengubah angka dari soal contoh, atau mengubah struktur masalahnya secara fundamental?
Laboratorium Visual: Geometri Dinamis
Salah satu cara terbaik memancing problem posing adalah melalui visualisasi dinamis. Ubahlah parameter di bawah ini, amati perubahannya, dan cobalah ajukan pertanyaan matematika berdasarkan apa yang Anda lihat.
Eksplorasi Segitiga Siku-Siku
"Jika alas diperbesar 2x lipat dan tinggi tetap, berapa kali lipat luas segitiga bertambah?"
Area Berlatih: Ajukan Masalahmu Sendiri
Teori tanpa praktik tidaklah cukup. Gunakan area di bawah ini untuk melatih kemampuan problem posing Anda. Kami telah menyediakan sebuah situasi (informasi), tugas Anda adalah membuat pertanyaan matematika yang berbobot dari informasi tersebut.
Praktik Mandiri
Di sebuah toko buah, harga 3 kg apel dan 2 kg jeruk adalah Rp 65.000,00. Sedangkan harga 1 kg apel dan 3 kg jeruk adalah Rp 45.000,00.
Hindari pertanyaan sederhana seperti "Berapa harga 1 kg apel?". Cobalah buat yang lebih menantang!
Menerapkan di Kelas: Langkah Praktis
Bagi para pendidik, berikut adalah tahapan mengintegrasikan problem posing:
- Mulai dari yang Sederhana: Jangan langsung meminta soal rumit. Mulailah dengan meminta siswa mengisi pertanyaan pada soal cerita yang bagian tanyanya dihilangkan.
- Gunakan Pemicu Visual: Tampilkan grafik data statistik yang sedang tren, lalu minta siswa membuat tiga pertanyaan berdasarkan grafik tersebut.
- Strategi "Jawaban Sudah Ada": Tuliskan angka "50 cm²" di papan tulis. Tantang siswa: "Buatlah sebanyak mungkin soal geometri yang jawabannya adalah 50 cm²!"
Kesimpulan
Problem Posing bukan sekadar teknik tambahan, melainkan jantung dari literasi matematika. Dengan mengajukan masalah, siswa belajar bernalar, berkomunikasi, dan menghubungkan ide-ide matematika. Di era di mana mesin dapat menghitung lebih cepat dari manusia, kemampuan untuk merumuskan masalah yang tepat menjadi keterampilan manusia yang paling berharga.
Glosarium
- Silver, E. A. (1994). On Mathematical Problem Posing. For the Learning of Mathematics, 14(1), 19-28.
- Silver, E. A., & Cai, J. (1996). An Analysis of Arithmetic Problem Posing by Middle School Students. Journal for Research in Mathematics Education.
- Brown, S. I., & Walter, M. I. (2005). The Art of Problem Posing. Lawrence Erlbaum Associates.
- Stoyanova, E., & Ellerton, N. F. (1996). A Framework for Research into Students' Problem Posing. Technology in Mathematics Education.

