Sejarah Hari Valentine
Analisis Historis, Matematis, & Hibriditas Budaya
14 Februari bukan sekadar tanggal merah jambu dalam kalender modern. Di balik komersialisasi cokelat dan bunga, terdapat stratifikasi sejarah yang kompleks—sebuah palimpsest budaya yang melibatkan ritual pagan kuno, hagiografi martir Kristen, literatur abad pertengahan, hingga kalkulasi ekonomi global. Artikel ini disusun khusus untuk civitas akademika Pendidikan Matematika dan masyarakat umum, membedah fenomena Valentine dari akar sejarah hingga model matematisnya.
1. Akar Kuno: Lupercalia dan Mitos Undian
Banyak narasi populer secara keliru menarik garis lurus langsung dari festival Romawi Lupercalia ke Hari Valentine. Lupercalia, yang dirayakan setiap 15 Februari, adalah ritual penyucian dan kesuburan yang kasar (violent ritual).
Para imam (Luperci) akan berkumpul di gua keramat, mengorbankan kambing dan anjing. Kulit kambing tersebut dipotong menjadi cambuk yang disebut februa. Para pria berlari mengelilingi Bukit Palatine, menepuk wanita dengan februa ini. Para wanita percaya sentuhan ini meningkatkan fertilitas dan memudahkan persalinan.
Uji Mitos Sejarah: "Lotere Cinta"
Ada anggapan bahwa pemuda Romawi menarik nama gadis dari guci secara acak untuk dipasangkan selama setahun. Apakah ini benar?
Paus Gelasius I memang menghapus Lupercalia pada tahun 496 M, namun penetapan 14 Februari sebagai hari Santo Valentinus tidak serta merta menjadi pengganti romantis langsung. Hubungan keduanya bersifat asimtotik—mendekati namun tidak bersinggungan secara kausalitas romansa.
2. Hagiografi: Tiga Valentinus
Siapakah Valentinus? Gereja Katolik mengakui setidaknya tiga martir berbeda bernama Valentine atau Valentinus, yang semuanya dieksekusi.
- Valentine dari Roma: Seorang imam yang menjadi martir sekitar tahun 269 M.
- Valentine dari Terni: Seorang uskup yang juga dieksekusi di bawah Kaisar Aurelian.
- Martir Ketiga: Dieksekusi di Afrika, namun sedikit informasi mengenainya.
Legenda paling populer (meski apokrif) adalah tentang Valentine yang menentang dekrit Kaisar Claudius II yang melarang pernikahan prajurit muda. Valentine menikahkan pasangan secara rahasia—sebuah tindakan "pembangkangan sipil" atas nama cinta sakramental.
3. Penemuan Romansa: Peran Geoffrey Chaucer
Titik nol di mana Valentine dikaitkan dengan cinta romantis (courtly love) terjadi di Inggris Abad Pertengahan, bukan Roma. Penyair Geoffrey Chaucer adalah arsitek utamanya.
Dalam puisi Parlement of Foules (1382), Chaucer menulis:
"For this was on seynt Volantynys day / Whan euery bryd comyth there to chese his make."
(Karena inilah hari Santo Valentinus / Ketika setiap burung datang untuk memilih pasangannya).
Sebelum Chaucer, tidak ada catatan sejarah yang mengasosiasikan santo tersebut dengan asmara. Chaucer menggunakan lisensi puitis untuk menciptakan tradisi.
4. Tinjauan Matematika: Geometri Hati
Dalam perspektif pendidikan matematika, kita dapat memodelkan simbolisme Valentine. Simbol hati (
Laboratorium Geometri: Kurva Kardioid
Persamaan parametrik untuk bentuk hati yang estetis (variasi dari kardioid murni):
Selain geometri, matematikawan juga mempelajari "pencarian pasangan" melalui Teori Graf, khususnya Stable Marriage Problem. Algoritma Gale-Shapley (1962), yang memenangkan Nobel Ekonomi, membuktikan bahwa stabilitas perjodohan dapat dicapai secara matematis, meskipun prosesnya memiliki kompleksitas
5. Variasi Global dan Hibriditas Budaya
Di era kontemporer, Valentine mengalami proses glokalisasi (globalisasi + lokalisasi). Setiap budaya mengadopsi dan memodifikasi perayaan ini, menciptakan varian hibrida yang unik.
A. Jepang: Kekeliruan yang Menjadi Norma
Pada tahun 1950-an, sebuah perusahaan cokelat salah menerjemahkan budaya Barat, sehingga tercipta tradisi bahwa hanya wanita yang memberi cokelat kepada pria pada 14 Februari. Hal ini melahirkan dua klasifikasi cokelat:
- Giri-choco (Cokelat Kewajiban): Diberikan kepada atasan atau rekan kerja pria tanpa unsur romantis.
- Honmei-choco (Cokelat Sejati): Diberikan kepada pasangan atau orang yang disukai.
Sebagai balasan, Jepang menciptakan White Day pada 14 Maret, di mana pria harus membalas pemberian tersebut.
Kalkulator Budaya: "Sanbai Gaeshi"
Di Jepang, berlaku norma sosial Sanbai Gaeshi (三倍返し), yaitu pria harus membalas hadiah senilai 3 kali lipat pada White Day.
B. Korea Selatan: Barisan Aritmatika Tanggal 14
Korea Selatan memperluas konsep ini menjadi fenomena bulanan. Setiap tanggal 14 memiliki makna, membentuk sebuah siklus sosial:
- 14 Februari: Wanita memberi cokelat ke pria.
- 14 Maret (White Day): Pria membalas hadiah.
- 14 April (Black Day): Para lajang yang tidak mendapat hadiah di dua bulan sebelumnya berkumpul memakan Jajangmyeon (mie saus kedelai hitam) sebagai bentuk solidaritas komunal.
C. Wales: Geometri Kayu (Love Spoons)
Di Wales, perayaan Santo Dwynwen (25 Januari) lebih tradisional daripada Valentine. Pria mengukir sendok kayu (Love Spoons) dengan pola topologi yang rumit. Simbolisme matematika terlihat jelas: pola rantai melambangkan kesetiaan tak terputus, dan kunci melambangkan akses ke hati seseorang.
Glosarium
Palimpsest: Naskah yang tulisannya dihapus untuk digunakan kembali, namun jejak tulisan lama masih tersisa; metafora untuk sejarah yang berlapis.
Apokrif: Tulisan yang diragukan keasliannya dan tidak termasuk dalam kanon resmi.
Hagiografi: Studi atau penulisan tentang kehidupan para orang kudus (santo/santa).
Algoritma Gale-Shapley: Solusi matematis untuk masalah Pernikahan Stabil (Stable Marriage Problem).
Glokalisasi: Penyesuaian produk atau budaya global terhadap kondisi lokal.
Daftar Pustaka
- Oruch, Jack B. (1981). "St. Valentine, Chaucer, and Spring in February". Speculum.
- Schmidt, Leigh Eric (1995). "Consumer Rites: The Buying and Selling of American Holidays". Princeton University Press.
- Gale, D., & Shapley, L. S. (1962). "College Admissions and the Stability of Marriage". The American Mathematical Monthly.

